Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at. Islam juga adalah agama rahmatan lil alamin yang tidak ada unsur paksaan untuk memeluknya. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilmu pengetahuan. Karena menggali ilmu pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era globalisasi, yaitu zaman yang tidak hanya di miliki, dirasakan oleh sekelompok orang, masyarakat, suku bangsa atau negarab tertentu. Tetapi dinikmati dan dirasakan oleh setiap orang, kelompok masyarakat lintas negara. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi orang dan barang.
Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang, bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret manusia untuk jauh dari konsepsi masyarakat Islam. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Islam itu sendiri. Dalam menyikapi era globalisasi ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. Hal ini dikarenakan globalisasi merupakan tantangan dan tantangan itu memerlukan jawaban. Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertujuan agar kehadiran globalisasi dapat di manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisasi kerugian.
Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan ilmu-ilmu tersebut berdasarkan atas Al-Quran dan As sunnah. Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang disebut juga dengan jiwa agama dan mengatur hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Tata hubungan manusia dengan Tuhan itu bertahan tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul. Sementara tata hubungan manusia dengan manusia semenjak Islam diturunkan selalu mengalami perubahan. Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bertahan tetap, karena ditetapkan oleh Islam itu sendiri, tetapi pelaksanaan nya selalu berubah.
Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam melihat kemajuan-kemajuan Barat terutama dari segi keilmuan dan tekhnologinya. Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa mengabaikan nilai-nilai ke Islaman yang gunanya untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali kezaman kejayaan nya dalam peradaban dan keilmuannya pada masa lampau. Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam arti positip yang telah dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan barat. Wallahu A’lam.
artikel dari www.waspada.co.id
Kamis, 26 April 2012
Pendidikan Islam era Global
Pendidikan Islam sebagai wadah perubahan dan kebaikan dapat dikatakan sebagai sarana rekayasa individual dan sosial ke arah pembangunan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka penyesuaian misi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat merupakan suatu kemestian. Era globalisasi yang berdampak pada benturan budaya dan agama tentu mesti direspon dengan gerak upaya pendidikan sehingga pendidikan benar-benar dapat menjadi wadah rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan sesuai dengan ruh Islam itu sendiri..
Iman sebagai implementasi praktis dari jiwa ketauhidan dalam Islam meniscayakan adanya rencana aksi kependidikan yang tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill an sich, tetapi juga pada upaya pentransferan nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW.
Moralitas kependidikan Islam yang berdimensikan nilai-nilai ke-Ilahi-an sebagai wujud dari jiwa ketauhidan ini, secara kategoris akan menjelmakan manusia-manusia yang kuat dalam iman, ilmu dan amal sebagai lambang jiwa produktivitas manusia yang dapat menopang dinamika kehidupan alam global. Moralitas kependidikan Islam ini mesti ditata dalam konteks pembentukan kepribadian yang cerdas, tangkas dan penuh dedikasi mencari kebenaran Islami agar semangat pengembangan intelektual terarah untuk menjadikan dirinya sebagai insan muttaqin.
Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78 memberi petunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya. Hal yang sedemikian itu memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya yang selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang menjadi karakter utama pendidikan Islam.
Untuk membangun pendidikan Islam seperti ini menjadikan pengupayaaan pembinaan kesadaran subjek-subjek didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan senyatanya.
Era globalisasi yang sarat dengan dinamika kehidupan yang begitu cepat secara langsung atau tidak akan mempengaruhi model berpikir dan cara orang dalam mengambil sikap hidup. Hal yang paling terdepan dapat membentuk pola itu, adalah peran dan pola pendidikan yang berlangsung. Pendidikan Islam dengan jiwa pembangunan humanitas yang ditawarkan pada hakikatnya akan mampu menjadikan kepribadian yang kokoh dan tangguh dalam membuat keputusan humanitas. Hal ini tidak saja pola dan corak yang dibangun atas nilai moral sebagai bagian utama kemanusian, tetapi juga pemahaman moralitas sebagai ekspresi nilai-nilai ketauhidan yang tampil dalam wujud prilaku paripuna kemanusiaan. Jika ini ditata dan dikembangkan dalam konteks kekinian, maka pendidikan Islam akan menjadi tumpuan harapan penyelamatan jiwa kemanusiaan yang mungkin kosong akibat kebingungan dan kehampaan nilai yang muncul akibat gaya hidup yang ditawarkan dalam konteks gl;obalisasi saat ini
artikel dari www.muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com
Iman sebagai implementasi praktis dari jiwa ketauhidan dalam Islam meniscayakan adanya rencana aksi kependidikan yang tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill an sich, tetapi juga pada upaya pentransferan nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW.
Moralitas kependidikan Islam yang berdimensikan nilai-nilai ke-Ilahi-an sebagai wujud dari jiwa ketauhidan ini, secara kategoris akan menjelmakan manusia-manusia yang kuat dalam iman, ilmu dan amal sebagai lambang jiwa produktivitas manusia yang dapat menopang dinamika kehidupan alam global. Moralitas kependidikan Islam ini mesti ditata dalam konteks pembentukan kepribadian yang cerdas, tangkas dan penuh dedikasi mencari kebenaran Islami agar semangat pengembangan intelektual terarah untuk menjadikan dirinya sebagai insan muttaqin.
Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78 memberi petunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya. Hal yang sedemikian itu memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya yang selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang menjadi karakter utama pendidikan Islam.
Untuk membangun pendidikan Islam seperti ini menjadikan pengupayaaan pembinaan kesadaran subjek-subjek didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan senyatanya.
Era globalisasi yang sarat dengan dinamika kehidupan yang begitu cepat secara langsung atau tidak akan mempengaruhi model berpikir dan cara orang dalam mengambil sikap hidup. Hal yang paling terdepan dapat membentuk pola itu, adalah peran dan pola pendidikan yang berlangsung. Pendidikan Islam dengan jiwa pembangunan humanitas yang ditawarkan pada hakikatnya akan mampu menjadikan kepribadian yang kokoh dan tangguh dalam membuat keputusan humanitas. Hal ini tidak saja pola dan corak yang dibangun atas nilai moral sebagai bagian utama kemanusian, tetapi juga pemahaman moralitas sebagai ekspresi nilai-nilai ketauhidan yang tampil dalam wujud prilaku paripuna kemanusiaan. Jika ini ditata dan dikembangkan dalam konteks kekinian, maka pendidikan Islam akan menjadi tumpuan harapan penyelamatan jiwa kemanusiaan yang mungkin kosong akibat kebingungan dan kehampaan nilai yang muncul akibat gaya hidup yang ditawarkan dalam konteks gl;obalisasi saat ini
artikel dari www.muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com
Islam dan Globalisasi (Upaya Membangun Optimisme Umat )
Fenomena kehidupan saat ini menarik untuk dicermati. Realita kehidupan tak ubahnya seperti dunia di dalam rumah; semua sudah tidak mengenal jarak dan waktu. Apa yang terjadi di belahan dunia timur bisa disaksikan dengan cepat oleh penduduk dunia belahan Barat, begitu pula sebaliknya. Tak heran muncul sebuah adagium “dunia ini sudah menjadi desa buana”. Sudah tak ada yang tersimpan. Semua serba transparan.
Fakta tersebut telah menunjukan adanya sebuah bukti bahwa manusia telah menampilkan keberhasilannya dalam bidang sains dan teknologi, terutama dalam mengakses informasi. Dari sini tentu kita akan sepakat bahwa informasi adalah kebutuhan dhorûri (primer) bagi setiap manusia. Siapa yang mampu menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia.
Sesungguhnya fenomena globalisasi sudah lama muncul. Hanya saja istilah ini baru muncul ke permukaan. Terma “globalisasi” berasal dari bahasa Inggris “globalization” yang berarti menyebar luaskan serta memperluas jangkauan sesuatu agar menyentuh semua lapisan.
Globalisasi tidak hanya digunakan dalam bidang ekonomi saja, namun merupakan “ajakan” untuk mengadopsi paradigma tertentu (baca: Barat). Hal inilah yang kemudian banyak disoroti oleh para pengamat bahwa globalisasi sebenarnya tidak jauh beda dengan “amerikanisasi”.
Hal tersebut sangat jelas kita lihat dalam fakta yang terjadi di akhir-akhir ini; globalisasi hanyalah usaha Amerika untuk memperkuat hegemoni terhadap dunia. Banyak cara untuk melegitimasi hegemoni tersebut. Melalui lembaga-lembaga dunia seperti IMF dan bank dunia, mereka berusaha menguasai roda perekonomian dunia. Negara yang dianggap “penghalang” terpaksa harus disingkirkan dan harus diberi pelajaran. “Drama” tersebut bisa kita lihat dalam tragedi kemanusiaan di Afganistan, Palestina, Iran, Sudan dan selanjutnya entah negara mana lagi yang akan menjadi mangsa selanjutnya. Menyadari penyimpangan yang terjadi pada arti hakiki globalisasi tersebut, maka kita sebagai seorang muslim dituntut untuk bisa bersikap obyektif yaitu mampu melakukan pemilahan antara nilai-nilai positif (haq) dan nilai-nilai negatif (bâthil), agar sebagai umat Islam, kita tidak terjebak dalam jaring-jaring hegemoni Barat.
Kita menyadari bahwa globalisasi adalah trend sekaligus produk sejarah yang sedang terjadi dan kita alami. Kita tidak punya kekuatan untuk menolak apalagi lari dari kenyataan sejarah ini. Yang mesti kita lakukan adalah melakukan gerakan dinamis bersama arus ini yaitu dengan menjaga diri agar tidak kehilangan kendali serta jati diri.
Menghadapi era globalisasi, sikap kaum muslimin bisa dikatakan terbagi menjadi beberapa macam: Pertama, mengikutinya secara mutlak. Mereka meyakini bahwa apa yang ada di balik globalisasi dan semua hal yang berbau westernisasi adalah sebuah standar ideal yang perlu untuk ditiru. Sikap semacam inilah yang hanya akan menenggelamkan umat islam dari peredaranya. Kedua, mereka yang menolak secara keseluruhan. Golongan inilah yang diistilahkan oleh Prof. Dr. Yusuf Qordhowi sebagai kelompok “penakut”. Mereka takut untuk berhadapan secara langsung dengan peradaban Barat. Hal itu dinilai tidak “fair” karena dianggap lari dari kenyataan yang ada. Mereka menutup pintu rapat-rapat terhadap hembusan angin globalisasi karena takut terkena debu dan polusi peradaban. Padahal sejatinya mereka membutuhkan udara. Ketiga, golongan moderat (berada ditengah-tengah). Golongan inilah yang menjadi cerminan sikap ideal seorang muslim. Mereka sadar bahwa menutup diri serta mengisolasi diri dari dunia luar hanyalah usaha yang sia-sia belaka dan tak berguna. Mereka meyakini bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan kemajuan zaman. Allah Swt. berfirman : “Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk sekalian manusia”
Pertanyaan selanjutnya yang mengemuka adalah tentang masa depan umat islam. Setidaknya ada dua prediksi; Pertama, pesimistik. Sikap ini muncul karena melihat realita yang ada dalam tubuh umat islam sekarang, dimana untuk ukuran perkembangan sains dan teknologi umat islam berada dalam posisi yang paling bawah dan sangat termarjinalkan. Permasalahan umat islam saat ini semakin kompleks. Terjadinya dekadensi moral, kesenjangan sosial, keterbelakangan, serta pelanggaran HAM telah begitu memprihatinkan. Inilah masalah-masalah yang sedang dihadapi umat islam. Untuk memperbaikinya umat membutuhkan waktu yang lama. Kedua, optimistik. Sikap ini didasarkan pada pengamatan sejarah, dimana kita pernah mengukir kejayaan di masa lampau. Dengan sikap yang seperti itu, mereka meyakini bahwa kemajuan peradaban akan terus berputar dan bergantian di antara manusia.
Sebagai umat islam, kita berkewajiban untuk berjuang dan menjunjung tinggi agama Islam. Ada beberapa tawaran alternatif: (1). Mengembalikan kesadaran umat islam yang selama ini “tertidur”. Ajaran islam harus disampaikan untuk kemaslahatan dan pencerahan manusia. (2). Bersikap inklusif terhadap budaya luar, karena sikap mengisolasi diri adalah sikap yang bertentangan dengan ajaran islam ( Al-hujrat 13). (3). Berpegang teguh pada ajaran Islam sebagai sumber inspirasi peradaban. Dan yang terpenting adalah merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
WalLâhu a’lam bishowâb.
artikel dari www.baradikal.multiply.com
Fakta tersebut telah menunjukan adanya sebuah bukti bahwa manusia telah menampilkan keberhasilannya dalam bidang sains dan teknologi, terutama dalam mengakses informasi. Dari sini tentu kita akan sepakat bahwa informasi adalah kebutuhan dhorûri (primer) bagi setiap manusia. Siapa yang mampu menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia.
Sesungguhnya fenomena globalisasi sudah lama muncul. Hanya saja istilah ini baru muncul ke permukaan. Terma “globalisasi” berasal dari bahasa Inggris “globalization” yang berarti menyebar luaskan serta memperluas jangkauan sesuatu agar menyentuh semua lapisan.
Globalisasi tidak hanya digunakan dalam bidang ekonomi saja, namun merupakan “ajakan” untuk mengadopsi paradigma tertentu (baca: Barat). Hal inilah yang kemudian banyak disoroti oleh para pengamat bahwa globalisasi sebenarnya tidak jauh beda dengan “amerikanisasi”.
Hal tersebut sangat jelas kita lihat dalam fakta yang terjadi di akhir-akhir ini; globalisasi hanyalah usaha Amerika untuk memperkuat hegemoni terhadap dunia. Banyak cara untuk melegitimasi hegemoni tersebut. Melalui lembaga-lembaga dunia seperti IMF dan bank dunia, mereka berusaha menguasai roda perekonomian dunia. Negara yang dianggap “penghalang” terpaksa harus disingkirkan dan harus diberi pelajaran. “Drama” tersebut bisa kita lihat dalam tragedi kemanusiaan di Afganistan, Palestina, Iran, Sudan dan selanjutnya entah negara mana lagi yang akan menjadi mangsa selanjutnya. Menyadari penyimpangan yang terjadi pada arti hakiki globalisasi tersebut, maka kita sebagai seorang muslim dituntut untuk bisa bersikap obyektif yaitu mampu melakukan pemilahan antara nilai-nilai positif (haq) dan nilai-nilai negatif (bâthil), agar sebagai umat Islam, kita tidak terjebak dalam jaring-jaring hegemoni Barat.
Kita menyadari bahwa globalisasi adalah trend sekaligus produk sejarah yang sedang terjadi dan kita alami. Kita tidak punya kekuatan untuk menolak apalagi lari dari kenyataan sejarah ini. Yang mesti kita lakukan adalah melakukan gerakan dinamis bersama arus ini yaitu dengan menjaga diri agar tidak kehilangan kendali serta jati diri.
Menghadapi era globalisasi, sikap kaum muslimin bisa dikatakan terbagi menjadi beberapa macam: Pertama, mengikutinya secara mutlak. Mereka meyakini bahwa apa yang ada di balik globalisasi dan semua hal yang berbau westernisasi adalah sebuah standar ideal yang perlu untuk ditiru. Sikap semacam inilah yang hanya akan menenggelamkan umat islam dari peredaranya. Kedua, mereka yang menolak secara keseluruhan. Golongan inilah yang diistilahkan oleh Prof. Dr. Yusuf Qordhowi sebagai kelompok “penakut”. Mereka takut untuk berhadapan secara langsung dengan peradaban Barat. Hal itu dinilai tidak “fair” karena dianggap lari dari kenyataan yang ada. Mereka menutup pintu rapat-rapat terhadap hembusan angin globalisasi karena takut terkena debu dan polusi peradaban. Padahal sejatinya mereka membutuhkan udara. Ketiga, golongan moderat (berada ditengah-tengah). Golongan inilah yang menjadi cerminan sikap ideal seorang muslim. Mereka sadar bahwa menutup diri serta mengisolasi diri dari dunia luar hanyalah usaha yang sia-sia belaka dan tak berguna. Mereka meyakini bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan kemajuan zaman. Allah Swt. berfirman : “Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk sekalian manusia”
Pertanyaan selanjutnya yang mengemuka adalah tentang masa depan umat islam. Setidaknya ada dua prediksi; Pertama, pesimistik. Sikap ini muncul karena melihat realita yang ada dalam tubuh umat islam sekarang, dimana untuk ukuran perkembangan sains dan teknologi umat islam berada dalam posisi yang paling bawah dan sangat termarjinalkan. Permasalahan umat islam saat ini semakin kompleks. Terjadinya dekadensi moral, kesenjangan sosial, keterbelakangan, serta pelanggaran HAM telah begitu memprihatinkan. Inilah masalah-masalah yang sedang dihadapi umat islam. Untuk memperbaikinya umat membutuhkan waktu yang lama. Kedua, optimistik. Sikap ini didasarkan pada pengamatan sejarah, dimana kita pernah mengukir kejayaan di masa lampau. Dengan sikap yang seperti itu, mereka meyakini bahwa kemajuan peradaban akan terus berputar dan bergantian di antara manusia.
Sebagai umat islam, kita berkewajiban untuk berjuang dan menjunjung tinggi agama Islam. Ada beberapa tawaran alternatif: (1). Mengembalikan kesadaran umat islam yang selama ini “tertidur”. Ajaran islam harus disampaikan untuk kemaslahatan dan pencerahan manusia. (2). Bersikap inklusif terhadap budaya luar, karena sikap mengisolasi diri adalah sikap yang bertentangan dengan ajaran islam ( Al-hujrat 13). (3). Berpegang teguh pada ajaran Islam sebagai sumber inspirasi peradaban. Dan yang terpenting adalah merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
WalLâhu a’lam bishowâb.
artikel dari www.baradikal.multiply.com
Umat Islam dalam Era Globalisasi
Globalisasi atau proses mendunia, adalah terjadinya hubungan komunikasi umat manusia di seluruh dunia yang semakin efektif. Hal itu didukung oleh sarana dan prasarana teknologi informasi-komunikasi serta transportasi yang semakin melancarkan hubungan umat manusia, sehingga terjadi iklim saling mempengaruhi semakin meluas. Arus Globalisasi itu kini semakin deras, dan menimbulkan dapak positif maupun negatif. Dapak positifnya antara lain, informasi dari belahan dunia yang jauh dapat segera diletahui oleh manusia dibelahan dunia yang lain. Manusia dengan mudah berkomunikasi, termasuk dapat dengan cepat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga merata di seluruh dunia. Di samping dampak positif, arus Globalisasi juga menimbulkan dampak negative yang sangat perlu mendapatkan perhatian. Adapun dampak negatifnya antara lain, adanya ledakan informasi yang menguasai kehidupan manusia, dengan demikian yang mengusai media informasi, akan jadi penentu menguasai/mempengaruhi masyarakat dunia. Pengaruh negative dari luar (seperti pornografi-pornoaksi, taktik-strategi kejahatan, komsumerisme, hedonisme, liberalisme, sekulerisme dan sebagainya ), dengan leluasa masuk menusuk jantung rumah tangga kita, dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga.
Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis, sangat menonjolkan hak individunya. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja, dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. Dengan demikian, arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga, masyarakat dan kemudian negara, apabila kita lengah, tidak waspada, dan kurang siap menghadapinya. Bagi Umat Islam, menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan, sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas, syiasyah, dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguh-sungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil’alamien, memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi, umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah, Syari’ah-Ibadah, Amaliah, dan Akhlaqul Karimah. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar, akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi, sehingga dapat selamat, dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas.
Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi, maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Dalam kitabullah Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia ini, antara lain :
Pertama, Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q.S. Al Mujadilah 11 ), sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh, akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia.
Kedua, Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q.S. Al Qoshos: 77), yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat, dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. b). Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. c) Tidak membuat kerusakan di bumi.
Ketiga, Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang, membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ), berlandaskan Ta’awun atau gotong-royong. Kesemuanya itu saling menjaga, agar jangan sampai dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya, terperosok dalam neraka (Q.S. At Tahrim: 6 ).
Keempat, Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam, sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q.S. Ali Imron: 102 ).
Dengan demikian itu, Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi, dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia.
artikel dari www.adabydarban.blogspot.com
Kehidiupan manusia semakin didorong individualistis, sangat menonjolkan hak individunya. Kehidupan beragama hanya diambil ritualnya saja, dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek individual belaka. Dengan demikian, arus globarisasi itu dapat mengancam kehidupan sejak dari keluarga, masyarakat dan kemudian negara, apabila kita lengah, tidak waspada, dan kurang siap menghadapinya. Bagi Umat Islam, menghadapi arus Globalisasi ini merupakan tantangan, sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas, syiasyah, dan trampil memanfaatkan untuk Jihad ( berjuang sungguh-sungguh ) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai Rahmat Lil’alamien, memberikan kesejahteran bagi seluruh alam. Dalam menhhadapi tantangan arus Globalisasi, umat Islam perlu giat memperkokoh Benteng dengan memperkuat fondasi Aqidah, Syari’ah-Ibadah, Amaliah, dan Akhlaqul Karimah. Dengan fondasi ajaran Islam ini insyaAllah akan mempu menjadi filter dan punya daya tangkal terhadap arus negative Globalisasi atau arus popularitas zaman. Dengan memahami dan menghayati serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar, akan mahir mengendalikan diri dan menyeleksi pengaruh arus Globalisasi, sehingga dapat selamat, dan justeru dapat memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dan pengembangan Islam di dunia yang lebih luas.
Dalam rangka untuk menguatkan umat menghadapi arus Globalisasi, maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt. Dalam kitabullah Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia ini, antara lain :
Pertama, Umat Islam harus memperkuat Iman dan juga harus memiliki Ilmu Pengetahuan yang luas ( Q.S. Al Mujadilah 11 ), sehingga Ilmu dan Teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh Iman yang kokoh, akan barokah dan mamfaat bagi kehidupan peradaban manusia.
Kedua, Umat dapat mengamalkan konsep hidum manusia dalam (Q.S. Al Qoshos: 77), yaitu a) Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat, dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya. b). Bebuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal sholehnya. c) Tidak membuat kerusakan di bumi.
Ketiga, Memperkokoh Rumah Tangga Sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang, membangun masyarakat yang Marhammah-Qoryatan Toyyibah ( tentram-damai ), berlandaskan Ta’awun atau gotong-royong. Kesemuanya itu saling menjaga, agar jangan sampai dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya, terperosok dalam neraka (Q.S. At Tahrim: 6 ).
Keempat, Memperkokoh Istiqomah Umat Islam pada pengetahuan-pemahaman-serta mengamalan ajaran Islam, sehingga benar-benar Muttaqin (bertaqwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin ( Q.S. Ali Imron: 102 ).
Dengan demikian itu, Umat Islam akan tegar berani menghadapi arus Globalisasi, dan bahkan dapat tampil dengan mahir menggguna Ilmu-Pengetahuan & Teknologi sebagai sarana dan prasarana perjuangan dakwah-Amar makruf nahi mungkar, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan umat manusia di seluruh dunia.
artikel dari www.adabydarban.blogspot.com
Kaum Muslimin dan Pendidikan
Islam adalah agama langit terakhir yang diturunkan Allah Sang Pencipta alam kepada seluruh umat manusia melalui perantaraan Nabi besar Muhammad saw sebagai rahmat yang akan menyelamatkan kehidupan mereka. Sebagai agama langit terakhir yang akan membimbing umat manusia sampai akhir zaman, Islam telah memiliki dan dilengkapi dengan seperangkat ajaran sempurna yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari masalah-masalah yang berkaitan dengan orang perongan, keluarga, masyarakat, negara dan hubungan diantaranya. Dengan kesempurnaan ajarannya, Islam akan membimbing para pengikutnya menuju kesempurnaan dan kemenangan hidup di dunia dan akherat kelak. Ajaran-ajaran mulia Islam secara langsung ataupun tidak telah memberikan rangsangan sedemikian rupa kepada para pengikutnya dari berbagai pendekatannya yang unik agar selalu menjadi orang-orang yangterlibat dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan, baik sebagai orang yang berilmu, orang yang mencari ilmu, orang yang mengembangkan ilmu ataupun orang-orang yang memberikan pasilitas kepada mereka, sehingga Islam telah melahirkan banyak para ilmuawan brilyan kelas dunia menurut bidang spesialisasinya masing-masing yang menjadi referensi dunia sampai sekarang.
Diantara mereka yang tekenal adalah al-Jabar, al-Biruni, Ibn. Hayyan, Ibnu Rusyd, Ibn. Sina, al-Farabi, al-Ghazali, Ibn. Khaldun dan banyak lagi lainnya yang telah menjadi bintang-bintang dunia keilmuaan. Uniknya mereka tidak hanya menguasai ilmu-ilmu dunia seperti fisika, matematika, biologi, kimia,
sosiologi-antrofologi, geografi dan sejenisnya, namun pada saat yang sama mereka adalah para ahli agama Islam yang menghafal al-Qur’an dan al-Hadits, menguasai fiqh dan lainnya, bahkan diantara mereka ada yang menjadi Qadhi (hakim agama) bahkan Mufti (pemberi fatwa agama). Ini dapat terjadi karena Islam dengan sistim pendidikannya yang terpadu tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu dunia sebagaimana dikenal masyarakat modern yang sekuler. Islam menekankan pada para pengikutnya, ajaran dan perintah agama adalah landasan utama dalam mencapai kegemilangan dunia, sehingga para cendikiawan Islam pterdahulu adalah orang yang menguasai agama sekaligus menguasai ilmu dunia.
Sejak awal diturunkannya Islam telah memulai ajarannya dengan menyerukan proses pendidikan sesuai keperluan masyarakat waktu itu, jika pendidikan diartikan sebagai proses membangun dan mengembangkan sumber daya manusia. Perintah Allah yang paling pertama turun kepada Nabi
Muhammad adalah ayat yang memerintahkan untuk membaca (iqra’). Membaca dalam pengertiannya yang luas adalah salah satu proses terpenting dalam sistim pendidikan. Tidak ada umat yang mencapai kemajuan dan kebesaran tanpa melalui proses membaca. Membaca pengetahuan-teknologi, membaca diri, membaca lingkungan, membaca alam raya dan membaca apapun yang dapat membangkitkan peradaban manusia. Dengan perintah membaca ini, sejak awal Islam telah menempatkan dirinya sebagai agama yang hendak merangsang fitrah manusia, mendorong para pengikutnya agar menjadi manusia-manusia berpengetahuan, bahkan dengan jelasnya Islam memberikan ketinggian beberapa drajad kepada orang-orang beriman yang memiliki pengetahuan, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an :
Allah akan meninggikan drajad orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa drajad . (al-Mujadilah : 11)
artikel dari www.scribd.com
Diantara mereka yang tekenal adalah al-Jabar, al-Biruni, Ibn. Hayyan, Ibnu Rusyd, Ibn. Sina, al-Farabi, al-Ghazali, Ibn. Khaldun dan banyak lagi lainnya yang telah menjadi bintang-bintang dunia keilmuaan. Uniknya mereka tidak hanya menguasai ilmu-ilmu dunia seperti fisika, matematika, biologi, kimia,
sosiologi-antrofologi, geografi dan sejenisnya, namun pada saat yang sama mereka adalah para ahli agama Islam yang menghafal al-Qur’an dan al-Hadits, menguasai fiqh dan lainnya, bahkan diantara mereka ada yang menjadi Qadhi (hakim agama) bahkan Mufti (pemberi fatwa agama). Ini dapat terjadi karena Islam dengan sistim pendidikannya yang terpadu tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu dunia sebagaimana dikenal masyarakat modern yang sekuler. Islam menekankan pada para pengikutnya, ajaran dan perintah agama adalah landasan utama dalam mencapai kegemilangan dunia, sehingga para cendikiawan Islam pterdahulu adalah orang yang menguasai agama sekaligus menguasai ilmu dunia.
Sejak awal diturunkannya Islam telah memulai ajarannya dengan menyerukan proses pendidikan sesuai keperluan masyarakat waktu itu, jika pendidikan diartikan sebagai proses membangun dan mengembangkan sumber daya manusia. Perintah Allah yang paling pertama turun kepada Nabi
Muhammad adalah ayat yang memerintahkan untuk membaca (iqra’). Membaca dalam pengertiannya yang luas adalah salah satu proses terpenting dalam sistim pendidikan. Tidak ada umat yang mencapai kemajuan dan kebesaran tanpa melalui proses membaca. Membaca pengetahuan-teknologi, membaca diri, membaca lingkungan, membaca alam raya dan membaca apapun yang dapat membangkitkan peradaban manusia. Dengan perintah membaca ini, sejak awal Islam telah menempatkan dirinya sebagai agama yang hendak merangsang fitrah manusia, mendorong para pengikutnya agar menjadi manusia-manusia berpengetahuan, bahkan dengan jelasnya Islam memberikan ketinggian beberapa drajad kepada orang-orang beriman yang memiliki pengetahuan, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an :
Allah akan meninggikan drajad orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa drajad . (al-Mujadilah : 11)
artikel dari www.scribd.com
Paradigima Baru Pendidikan Islam dalam Upaya Menjawab Tantangan Glogbal
Ketika wajah pendidikan di Indonesia dewasa ini ditatap,
tampak wajah yang pucat-pasih dan suram, karena berbagai tragedy mewarnai rona
hidup dan kehidupannya. Mulai perilaku dari siswa, mahasiswa sampai demonstrasi
para guru dan pendidik lainnya yang menuntut tunjangan mereka dinaikkan. Hal ini
merupakan kenyataan dan fenomena social yang tidak dapat dibantah lagi, betapa
rapuhnya dunia pendidikan di Negara ini yang nyaris kehilangan rohnya. Ini semua
merupakan representasi dari keadaan system pendidikan yang semakin menurun.
Dampak terhadap kondisi itu tampak ketika masyarakat
Indonesia mengalami krisis multidimensional dalam aspek kehidupan fenomena
kemiskinan, kebodohan, kezaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang,
kemrosotan moral, peningkatan tindak criminal, menjadi bagian tak terpisahkan
dari kehidupan masyarakat. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, puluhan
jita orang terpakasa hidup dalam kemiskinan dan belasan juta orang kehilangan
pekerjaan. Sementara, sekitar 4,5 juta anak harus putus sekolah. Hidup semakin
tidak mudah dijalani, sekalipun sekedar untuk mencari sesuap nasi.
Keyakinan umat islam bahwa berbagai krisis tersebut
merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan karena perilaku manusia sendiri.
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ar-rum : 41 yang artinya :
Telah Nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagia dari (akibata) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).
Ayat lain pada Q.S Al-nahl
; 112 yang artinya :
Dan Allah telah
membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
(penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, oleh karena itu Allah merasakan
kepada mereka kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka
perbuat.
Sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan karakter, sehingga amsyarakat yang tercipta merupakan cerminan masyarakat islam. Dengan demikian islam benar benar menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Namun, hingga kini pendidikan islam masih saja menghadapi
permasalahan yang kompleks, dari permasalahan konseptual-teoritis hingga
persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikan persoalan ini menjadikan
pendidikan islam tertinggal dari lembaga pendidikan lainnya, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan islam terkesan sebagai
pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim
yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non islam.
potongan artikel dari www.uin-alauddin.ac.id
Langganan:
Postingan (Atom)