Ketika wajah pendidikan di Indonesia dewasa ini ditatap,
tampak wajah yang pucat-pasih dan suram, karena berbagai tragedy mewarnai rona
hidup dan kehidupannya. Mulai perilaku dari siswa, mahasiswa sampai demonstrasi
para guru dan pendidik lainnya yang menuntut tunjangan mereka dinaikkan. Hal ini
merupakan kenyataan dan fenomena social yang tidak dapat dibantah lagi, betapa
rapuhnya dunia pendidikan di Negara ini yang nyaris kehilangan rohnya. Ini semua
merupakan representasi dari keadaan system pendidikan yang semakin menurun.
Dampak terhadap kondisi itu tampak ketika masyarakat
Indonesia mengalami krisis multidimensional dalam aspek kehidupan fenomena
kemiskinan, kebodohan, kezaliman, penindasan, ketidakadilan di segala bidang,
kemrosotan moral, peningkatan tindak criminal, menjadi bagian tak terpisahkan
dari kehidupan masyarakat. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, puluhan
jita orang terpakasa hidup dalam kemiskinan dan belasan juta orang kehilangan
pekerjaan. Sementara, sekitar 4,5 juta anak harus putus sekolah. Hidup semakin
tidak mudah dijalani, sekalipun sekedar untuk mencari sesuap nasi.
Keyakinan umat islam bahwa berbagai krisis tersebut
merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan karena perilaku manusia sendiri.
Allah SWT berfirman dalam Q.S Ar-rum : 41 yang artinya :
Telah Nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagia dari (akibata) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).
Ayat lain pada Q.S Al-nahl
; 112 yang artinya :
Dan Allah telah
membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
(penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, oleh karena itu Allah merasakan
kepada mereka kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka
perbuat.
Sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim, pendidikan islam mempunyai peran yang sangat signifikan di Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan karakter, sehingga amsyarakat yang tercipta merupakan cerminan masyarakat islam. Dengan demikian islam benar benar menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Namun, hingga kini pendidikan islam masih saja menghadapi
permasalahan yang kompleks, dari permasalahan konseptual-teoritis hingga
persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikan persoalan ini menjadikan
pendidikan islam tertinggal dari lembaga pendidikan lainnya, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan islam terkesan sebagai
pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim
yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non islam.
potongan artikel dari www.uin-alauddin.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thanx 4 your comment. . . .