Sesuai dengan uraian di atas, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang magis atau sesuatu yang tidak sembarangan orang memilikinya. Kepemimpinan adalah sebuat job atau keahlian yang dapat diajarkan pada orang lain. Sebetulnya banyak cara mengajarkan kepemimpinan pada orang lain, namun dalam uraian ini hanya akan diuraikan sebagian kecil tentang cara mengajarkan kepemimpinan pada orang lain diantaranya :
1. Memperkenalkan nilai-nilai leadership dalam agama
Islam adalah agama yang sangat kaya dengan nilai-nilai leadership. Untuk menumbuhkan kepemimpinan pada anak, perkenalkanlah nilai-nilai ledership ini pada anak. Sebagai contoh, ketika anak menjalankan shalat lima waktu, perkenalkanlah nilai-nilai kepemimpinan dalam shalat pada anak, dalam shalat ada imam dan ada makmum. Tugas imam adalah memimpin shalat sedangkan tugas makmum adalah mengikuti imam. Apabila imam salah, maka makmum wajib meluruskannya. Nilai-nilai seperti inilah yang harus diperkenalkan pada anak. Dengan diperkenalkan akan hal yang seperti ini, anak akan mengerti akan hakikat kepemimpinan yang sebenarnya. Mereka akan menyadari bahwa pemimpin wajib ditaati ketika mereka taat pada Allah tetapi apabila imam atau pemimpin melakukan kesalahan maka seorang makmum wajib meluruskannya dan apabila tidak bisa diluruskan atau melakukan hal yang sangat fatal dalam menjalankan kepoemimpinannya, maka makmum wajib mengganti imam atau pemimpin tersebut.
2. Meneladani para pemimpin (Al-Qudwah)
Dalam Al-Qur’an Allah mengajarkan kepada kaum muslimin agar selalu meneladani nabi Muhammad dalam semua hidupnya. Disebutkan dalam hadis bahwa ahlak Rasulullah merupakan implementasi dari ajaran-ajaran yang ada dalam al-Qur’an. Ajaran-ajaran tersebut termasuk diantaranya tentang kepemimpinan. Seseorang yang hendak mengajarkan kepemimpinan, ia harus menjadikan kehidupan nabi sebagai rujukan.
Selain meneladani akhlak nabi kita pun di anjurkan untuk meneladani akhlak para sahabat dan ulama salapus soleh yang selalu mengimplementasikan ajaran-ajaran Rasulullah dalam setiap keadaan. Cara meneladani akhlak mereka tentunya tidak dapat dilakukan secara langsung melainkan dengan mempelajari sejarah, biografi dan karya mereka. Dengan cara seperti itu kita dapat meneladni sipat-sipat mereka.
Selain itu, untuk implementasi dilapangan kita dapat melakukan al-qudwah dengan cara magang dengan seorang pemimpin yang berpengaruh, melihat sikap dan perilakunya. Menurut Jamal Madhi (2004:12) melakukan proses al-qudwah dengan metode magang akan timbul dua catatan yaitu :
Pertama : Bahwa kesalahan dapat saja berpindah secara terselubung yang terkadang dapat membunuh atau menghancurkan, karena ketidak mampuan sosok yang dilatih. Ini merupakan tanggung jawab sang tokoh.
Kedua : Merealisir apa yang dinamakan personifikasi (Asy-Syahshaniyah) yang merupakan penjelmaan potret pimpinannya. Oleh karena itu, kita tidak dikatakan telah mendidik seorang pemimpin baru, tetapi itu seperti seseorang yang berhenti berjalan untuk beberapa saat dan tidak dapat melangkah walau satu langkah serta kita tidak tahu penyebabnya. Karena kita hanya menjiplak seorang pemimpin teladan secara bulat dengan seluruh aspek positip maupun negatipnya.
3. Latihan berorganisasi
Untuk mengajarkan dan mewariskan kepemimpinan dapat juga dilakukan dengan cara latihan berorganisasi. Dalam sebuah oraganisasi seseorang yang menjadi anggota organisasi dapat belajar tentang implementasi kepemimpinan secara langsung, dintaranya :
1. Latihan Menerima Dan Menjalankan Sebuah Peran Atau Tugas
Dalam organisai mungkin ia akan berperan sebagai ketua, sekretaris ataupun peran lainnya yang harus kita jalankan. Peran-peran tersebut harus ia jalankan dengan penuh tanggung jawab karena kalau ia tidak menjalankan peran tersebut dengan baik, seluruh komponen organisasi akan mengalami kerugian akibat kelalaian yang ia lakukan. Dengan cara seperti ini, akan timbul kesadaran tentang pentingnya tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan peran dan tugas yang kita emban dalam organisasi. Dengan latihan berperan dengan penuh tanggung jawab akan muncul pada dirinya sipat amanah. Sipat amanah merupakan sipat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
2. Latihan Bersikap
Cara ini merupakan cara yang lebih spesipik dari cara yang pertama yaitu dengan cara pemberian tanggung jawab pada seseorang untuk memimpin sebuah diskusi, mengurus kepanitiaan, mengelola pekerjaan atau melaksanakan suatu tugas penting. Ia dipantau oleh panitia khusus yang mengevaluasi, memperbaiki atau mempersiapkan kader pemimpin tersebut untuk mengikuti kursus kepemimpinan, sehingga dijamin ia dapat merealisasikan dua hal :
1. Memiliki kemahiran memimpin
2. Mampu mentransfer informasi
Dari Ath-Thabrani : seseorang berkata: “Rasulullah saw menugaskan seorang sahabat untuk memimpin sebuah pasukan kavaleri. Setelah selesai ia kembali dan Rasulullah saw bertanya kepada nya : ”Bagaimana engkau mendapatkan kepemimpinan itu ?” Ia berkata: “aku seperti sebagian kaum. Jika aku menaiki kendaraanku, mereka ikut naik, dan jika aku turun mereka ikut turun.” Maka Nabi saw bersabda : ”sesungguhnya kekuasaan itu berada diambang kesulitan, kecuali orang yang dipelihara Allah.” Dan lelaki itu berkata : “Demi Allah aku tidak akan mau lagi bekerja (sebagai pemimpin) untukmu atau orang lain.” Lalu tersenyumlah Rasulullah saw hingga terlihat gerahanya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa lelaki itu adalah Miqdad bin Al-Aswad ra (Al Haitsami 5/201)
Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah saw selalu memotipasi para sahabatnya untuk memimpin melalui sikap dan beliau selalu mengontrol perkembangannya.
Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan kepemimpinan. Setiap cara sudah tentu akan memeiliki kelemahan dan kelebihan masing. Kita tidak dapat memlih hanya satu cara dalam mengajarkan kepemimpinan tetapi kita harus menggabungkan berbagai cara dalam mengajarkan kepemimpinan sehingga akan terbentuk kader pemimpin sesuai dengan yang diharapkan.
artikel dari www.sdnkopoelokyes.blogspot.com