Pendidikan Islam sebagai wadah perubahan dan kebaikan dapat dikatakan sebagai sarana rekayasa individual dan sosial ke arah pembangunan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, maka penyesuaian misi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat merupakan suatu kemestian. Era globalisasi yang berdampak pada benturan budaya dan agama tentu mesti direspon dengan gerak upaya pendidikan sehingga pendidikan benar-benar dapat menjadi wadah rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan sesuai dengan ruh Islam itu sendiri..
Iman sebagai implementasi praktis dari jiwa ketauhidan dalam Islam meniscayakan adanya rencana aksi kependidikan yang tidak hanya bergerak pada upaya metodologis-aplikatif akan pentransferan berbagai ilmu pengetahuan dan pembentukan skill an sich, tetapi juga pada upaya pentransferan nilai-nilai moral ke-Ilahi-an yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Nabi Muhamad SAW.
Moralitas kependidikan Islam yang berdimensikan nilai-nilai ke-Ilahi-an sebagai wujud dari jiwa ketauhidan ini, secara kategoris akan menjelmakan manusia-manusia yang kuat dalam iman, ilmu dan amal sebagai lambang jiwa produktivitas manusia yang dapat menopang dinamika kehidupan alam global. Moralitas kependidikan Islam ini mesti ditata dalam konteks pembentukan kepribadian yang cerdas, tangkas dan penuh dedikasi mencari kebenaran Islami agar semangat pengembangan intelektual terarah untuk menjadikan dirinya sebagai insan muttaqin.
Firman Allah SWT dalam al-Qur`an surah al-Nahl ayat 78 memberi petunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya. Hal yang sedemikian itu memerlukan pengkondisian yang terarah dan tertata rapi, sehingga dua potensi manusia itu dapat berkembang dan terbina untuk melahirkan berbagai pengetahuan yang akan membentuk pemikirannya yang selanjutnya menjadi sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah yang menjadi karakter utama pendidikan Islam.
Untuk membangun pendidikan Islam seperti ini menjadikan pengupayaaan pembinaan kesadaran subjek-subjek didik ini dapat dilakukan melalui pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan moral melalui pendidikan dan pembinaan pada pembuatan putusan moral melalui pertimbangan-pertimbangan rasional. Hal ini sangat penting, terutama mengingat kesadaran manusia atas sesuatu selalu berhubungan dengan dapat tidaknya rasio mereka mencerna dan menerima sebuah ajaran sebagai sebuah keyakinan ontologis yang mesti diaktualisasikan dalam tindakan senyatanya.
Era globalisasi yang sarat dengan dinamika kehidupan yang begitu cepat secara langsung atau tidak akan mempengaruhi model berpikir dan cara orang dalam mengambil sikap hidup. Hal yang paling terdepan dapat membentuk pola itu, adalah peran dan pola pendidikan yang berlangsung. Pendidikan Islam dengan jiwa pembangunan humanitas yang ditawarkan pada hakikatnya akan mampu menjadikan kepribadian yang kokoh dan tangguh dalam membuat keputusan humanitas. Hal ini tidak saja pola dan corak yang dibangun atas nilai moral sebagai bagian utama kemanusian, tetapi juga pemahaman moralitas sebagai ekspresi nilai-nilai ketauhidan yang tampil dalam wujud prilaku paripuna kemanusiaan. Jika ini ditata dan dikembangkan dalam konteks kekinian, maka pendidikan Islam akan menjadi tumpuan harapan penyelamatan jiwa kemanusiaan yang mungkin kosong akibat kebingungan dan kehampaan nilai yang muncul akibat gaya hidup yang ditawarkan dalam konteks gl;obalisasi saat ini
artikel dari www.muhmidayeli-perpustakaanmuhmida.blogspot.com